Mungkin beberapa di antara reader bertanya ”Kenapa lebih milih untuk beli dan tinggal di perumahan dibanding beli tanah dan bangun sendiri di perkampungan” Mimin akan kasih tahu kenapa-kenapanya lewat artikel ini. Mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan.

 

Semestinya konsep perumahan bukan sesuatu yang baru. Pada awalnya masyarakat suka tinggal secara berkelompok dan membangun secara sporadis sehingga terbentuklah suatu area yang disebut perkampungan. Seperti di Jakarta banyak kita kenal daerah seperti Kampung Ambon, Kampung Bugis, Kampung Cina, Petukangan, dan sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu pemerintah mulai melakukan penataan dimana suatu wilayah perkotaan dibagi-bagi menjadi beberapa zona seperti hunian, industri, perdagangan, pelayanan publik dll. Di dalam zona residensial boleh dibangun rumah dan sarana pendukungnya. Lalu munculah keinginan untuk menata area hunian yang lebih baik, sehat, dan hijau. Nah pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, mulailah dibangun kawasan perumahan pertama, yakni Menteng Jakarta Pusat, yang menjadi tempat hunian bagi para pejabat kolonial dan pengusaha Belanda.

 

Di era kemerdekaan pemerintah menyadari bahwa kebutuhan hunian menjadi teramat sangat mendesak. Apalagi dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang begitu pesat, maka dibutuhkan banyak sekali rumah dan sarana pendukungnya. Karena itu pemerintah mendirikan PT Perumnas Persero yang membangun hunian dan Bank BTN sebagai penyedia dana. Di lain pihak mulailah banyak perusahaan swasta yang turut melihat peluang bisnis perumahan. Mereka memilih berfokus kepada hunian menengah ke atas seperti Citraland, Kelapa Gading Jakarta, dan lain lain.

 

Di era Presiden SBY, pemerintah mencanangkan program Sejuta Rumah untuk mengatasi permasalahan backlog (kekurangan) rumah, yang konon jumlahnya seluruh Indonesia mencapai 15 juta apabila tidak segera diatasi. Jumlah backlog ini, katanya sekali lagi katanya, bisa terus bertambah seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia. Cukup mengkhawatirkan yah ! Inipun belum diperparah oleh keadaan dimana yang belum punya rumah adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang kesulitan untuk membeli rumah karena keterbatasan keuangan. Nah loh, pusing kan ! Karena itulah mulai dibangun Perumahan Bersubsidi Pemerintah, Apartemen Rusunami, dan berbagai kemudahan pembiayaan supaya bisa membantu MBR untuk punya rumah.

 

Ok cukup dulu mengenai latar belakang. Nah sekarang mimin mau masuk ke alasan kenapa lebih baik untuk beli di perumahan supaya reader punya gambaran yang baik sebelum memutuskan untuk membeli rumah.

  1. Lingkungan perumahan direncanakan secara baik dan matang, secara infrastruktur dan tatanan lingkungan, untuk membuat area hunian yang nyaman, aman, hijau dan tertib. Hal hal seperti ini sulit didapat di area perkampungan, terutama apabila sudah terlalu padat dan kumuh seperti yang sering kita lihat di Jabodetabek dan kota kota besar lainnya.

 

  1. Cara pembelian lebih fleksibel dan mudah karena pelbagai tawaran menarik. Kalau reader punya uang lebih maka bisa beli tunai ataupun cash bertahap. Sedangkan kalau belum punya uang yang cukup bisa membeli dengan menggunakan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dari Bank yang bisa dicicil sampai dengan 25 tahun. Nah bayangkan kalau reader beli di kampung apa bisa dicicil sampai 25 tahun, ya kagak bisa lah. Selain itu pembeli pasti dipermudah dalam proses jual beli dengan berbagai support yang diberikan oleh pengembang perumahan.

 

  1. Tidak repot dalam membangun. Bisa dibayangkan kalau reader membeli tanah di area perkampungan, dimana harus merencanakan untuk membangun rumah sendiri. Ribet kan ? belum lagi untuk mengawasi tukang yang kerja dan membeli sendiri material ke toko bangunan. Kemudian juga harus memikirkan biaya yang harus dikeluarkan di depan yang bukan jumlah kecil tentunya.

 

  1. Legalitas yang jelas. Kalau beli di perumahan biasanya secara legalitas rumah, baik itu sertifikat maupun ijin bangunan, sudah jelas ada. Apalagi kalau dibiayain bank lewat KPR. Tentunya Bank tidak memberikan kredit apabila legalitas rumah belum jelas. Nah untuk yang satu ini mimin juga anjurkan untuk membeli di pengembang perumahan yang punya track record baik, seperti Sakura Sejahtera, hehehe sekalian promo ya. Coba bayangkan kalau reader membeli di kampung dari pak A atau Ibu B, dimana suratnya hanya Letter C atau AJB. Bisa dibayangkan repotnya harus mengurus ke BPN ataupun Instansi Pemerintah lainnya. Udah ribet pasti mahal pula.

 

Memang biasanya ukuran tanah maupun bangunan yang didapat di perumahan lebih kecil dibandingkan kalau membeli sendiri di perkampungan. Namun ini bisa diatasi dengan pengaturan ruang yang lebih efektif dan efisien.

 

Mudah-mudahan artikel ini bisa membantu reader yang masih bimbang dalam memutuskan atas pembelian rumah. PT Sakura Sejahtera sendiri menawarkan beberapa tipe hunian di beberapa daerah, seperti Bekasi, Cikarang, dan Garut, yang mungkin bisa menjadi alternatif bagi reader. Stay safe everyone !

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.